Sultan Nuruddin Zanky memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Dinasti SYIAH FATHIMIYAH (2) dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Hal yang dilakukan Nuruddin adalah menyatukan Pasukan muslimin dengan menundukkan Dinasti Fathimiyah di Mesir. Nuruddin mengirim Panglimanya yang tangguh Asasuddin Shirkuh dan Shalahuddin ke Mesir. Asasudin Shirkuh merupakan paman Shalahuddin. Shalahuddin dan pamannya mengalahkan gabungan pasukan Fathimiyah dan Perancis. Setelah Khalifah Al-‘Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Dibawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin(Dinasti Zangids) menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.
Para pengikut Nuruddin Zangi seperti Muzafaruddin Kukburi/Gokbori(Serigala Biru dalam bahasa Turki) yang merupakan musuh Shalahuddin sewaktu Perang Hama melawan Dinasti Zanky/Zangid dan merupakan penguasa Irbil di Iraq, yang kemudian menjadi salah satu panglima Dinasti Ayyub setelah merosotnya kekuatan Dinasti Zangi. Gokbori merupakan seorang laki-laki gagah berani, pahlawan berpikiran matang, pemimpin yang teguh dan dapat diandalkan menurut sejarawan. Gokbori dikenang di Suriah dan Iraq sebagai pahlawan besar dan pelindung para cendekiawan seperti Ibnu Khalikan sang ahli sejarah. Gokbori juga merupakan gubernur Iraq pertama yang mendukung maulid Nabi(3) yang mencontoh tradisi yang dilakukan komunitas besar Kristen di Irbil, Iraq.
Kemenakan Shalhauddin yang bernama Taqiyuddin juga merupakan salah seorang Panglima perang yang brilian dan haus akan kekuasaan dan penaklukan. Taqiyuddin pernah akan memberontak sewaktu dicopot dari jabatan Gubernur Mesir, namun kemudian berbaikan dengan Sultan Shalahuddin setelah dia diberi kekuasaan sebagai Gubernur di Miyafariqin, Hama di utara Damaskus di perbatasan Kerajaan Ayyubi dengan Kerajaan Antiokia.
Anak Shalahuddin yang bernama Al Afdhal juga diserahkan tugas sebagai panglima.Al Afdhal panglima yang mengalahkan Panglima Templars Gerard De Ridefort pada Perang Mata air Cresson. Komandan pasukan islam yang lain adalah seorang Mamluk yang bernama Husamuddin Lu’lu yang merupakan panglima yang mengalahkan serangan Reynald du Chattilon di Laut Merah tahun 1183 M.